Jembrana, Mediajembrana.com – Cuaca buruk melanda kawasan Selat Bali sejak Rabu (24/6) sore. Gelombang tinggi yang menghantam Pelabuhan Ketapang, Banyuwangi, membuat kapal-kapal penyeberangan kesulitan bermanuver untuk sandar di dermaga. Akibatnya, efek domino kemacetan tak terhindarkan jalur menuju Pelabuhan Gilimanuk, Jembrana, Bali.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, kemacetan di Gilimanuk kian memprihatinkan dengan antrean kendaraan. Bahkan pada Rabu malam kendaraan mengular hingga sejauh sekitar 2 kilometer ke jalan nasional.
Guna mengurai kemacetan agar tidak mandek total, Kepolisian Kawasan Pelabuhan Gilimanuk bergerak cepat menerapkan skema rekayasa lalu lintas. Polisi terpaksa memisahkan jalur kendaraan berdasarkan ukurannya dan mengalihkan kendaraan kecil ke jalur alternatif.
“Benar kemarin hingga Kamis (25/6) sore terjadi antrean kendaraan menuju Pelabuhan Gilimanuk. Saat ini Pukul 20.00 Wita ekor antrean di Masjid Gilimanuk,” ungkap Kapolsek Kawasan Pelabuhan Gilimanuk, Kompol I Gusti Kade Alit Murdiasa, saat dikonfirmasi, Kamis (25/6) malam.
Kompol Alit Murdiasa menambahkan bahwa kendaraan besar seperti truk tetap dipertahankan di jalur utama. Sementara itu, mobil pribadi dan kendaraan kecil diarahkan masuk ke gang-gang pemukiman warga untuk memecah kepadatan.
“Gang satu kita gunakan untuk melintas kendaraan kecil. Jalur utama tetap truk. Saat ini ekor antrean terus bertambah karena arus lalu lintas truk saat malam hari meningkat,” pungkasnya.
Amukan gelombang tinggi di Selat Bali ini secara otomatis mengacaukan jadwal dan proses bongkar muat kapal. Demi mempercepat pergerakan kapal di tengah situasi darurat ini, otoritas pelabuhan kini resmi memberlakukan sistem Tiba Bongkar Berangkat (TBB).
Melalui sistem TBB ini, kapal yang baru bersandar diharapkan bisa langsung melakukan bongkar muat dan segera berlayar kembali tanpa menunggu waktu lama. Meski demikian, derasnya volume kendaraan yang datang terutama truk logistik pada malam hari membuat antrean panjang tetap tidak terhindarkan. (MJ)