NEGARA, Media Jembrana – Bali Eksperimental Teater (BET) kembali mencuri perhatian publik teater nasional setelah tampil dalam Festival Teater Indonesia FTI 2025 yang digelar pada 1-3 Desember 2025 di Auditorium RRI Medan, Sumatera Utara.
Tahun ini menjadi momentum penting bagi BET karena FTI 2025 merupakan edisi perdana festival tersebut, sekaligus pertama kalinya kelompok teater asal Jembrana itu menghadiri undangan resmi untuk tampil di panggung nasional.
Pementasan berjudul Tubuh yang Menari, produksi Bali Eksperimental Teater, dipentaskan pada 3 Desember 2025 malam, eebagai bagian dari program resmi FTI. Karya ini merupakan adaptasi novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini, dengan naskah yang diadaptasi oleh Sasti Gotama. Pertunjukan ini diproduseri Dewa Made Dwi Dharma Putra, dengan komposisi musik digarap oleh I Komang Sukma Upadana. Di atas panggung, pementasan diperkuat oleh para performer, diantaranya Kadek Cinthiya Ayu Bestari, Ni Putu Ayu Puspita Dewi, dan Kanahaya Elang Semesta.
FTI sendiri diselenggarakan di empat kota besar. Medan menjadi lokasi pembuka selama tiga hari, disusul Palu selama tiga hari, Mataram selama tiga hari, dan ditutup di Jakarta. Dalam penyelenggaraan perdana di Medan, BET tampil sebagai undangan resmi, berdiri sejajar dengan kelompok teater dari Makassar, Bandar Lampung, Tangerang, Jakarta, dan sejumlah daerah lainnya.
Keterlibatan BET di FTI tidak terlepas dari peran penting Nanoq da Kansas, yang sekaligus menjadi sutradara pementasan Tubuh yang Menari. Ia menjadi sosok yang mendorong anak-anak muda Jembrana masuk ke jejaring teater nasional hingga akhirnya mendapat ruang tampil dalam festival ini.
Secara artistik, Tubuh yang Menari mengangkat isu cinta, kasta dan perjuangan perempuan Bali. Narasi tersebut dihidupkan melalui kerja tubuh, tarian, musik gamelan dan seruling, serta elemen ritual seperti asap dupa yang menyelimuti panggung. Pendekatan ini menciptakan atmosfer yang intens dan khidmat, mempertegas karakter BET sebagai kelompok yang mengeksplorasi tubuh sebagai medium utama penceritaan.
Salah satu bagian yang paling menyita perhatian penonton adalah penampilan Joget Bumbung. Adegan ini memicu reaksi spontan, sejumlah penonton berdiri, ikut menari, bahkan memberi saweran. Interaksi seperti ini jarang hadir dalam pementasan teater kontemporer, dan menjadi salah satu momen paling berkesan selama FTI di Medan.
Beberapa catatan tetap muncul dari pengamat, terutama soal kekuatan vokal yang dianggap belum sepenuhnya setara dengan kekuatan visual panggung. Namun secara keseluruhan, BET dinilai berhasil menghadirkan pertunjukan yang kuat secara estetika, emosional, dan penuh energi.
Video cuplikan pementasan yang beredar di media sosial festival juga menunjukkan antusiasme besar dari penonton yang memadati Auditorium RRI Medan sejak awal. Unggahan persiapan hingga potongan adegan memperlihatkan bagaimana BET menjadi salah satu kelompok yang menonjol di FTI tahun ini.
Kehadiran Bali Eksperimental Teater (BET) dalam FTI 2025 menandai langkah maju teater Jembrana di tingkat nasional. Dengan perpaduan tradisi, eksplorasi tubuh dan keberanian artistik, BET berhasil membawa cerita perempuan Bali ke panggung yang lebih luas serta memperkuat posisi mereka dalam peta teater kontemporer Indonesia. (Angga Wijaya/MJ)