DENPASAR, Mediajembrana.com – Perayaan Tahun Baru Imlek 2577 Kongzili di Kota Denpasar tidak hanya menghadirkan kemeriahan budaya, tetapi juga memberi dampak nyata bagi pergerakan ekonomi masyarakat. Melalui Festival Harmoni Imlek 2026, kawasan heritage Jalan Gajah Mada dan Jalan Kartini berubah menjadi pusat aktivitas warga sekaligus ruang hidup bagi pelaku UMKM lokal.
Festival yang berlangsung pada 21–22 Februari 2026 ini merupakan kolaborasi Pemerintah Kota Denpasar bersama Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) Bali, serta melibatkan berbagai komunitas seni dan budaya lintas etnis. Kegiatan tersebut juga menjadi bagian dari rangkaian perayaan Hari Ulang Tahun ke-238 Kota Denpasar.
Sejak pembukaan, ribuan masyarakat memadati kawasan kota tua. Parade budaya yang diawali dari Kelenteng Sing Bie menuju kawasan Pasar Badung hingga Patung Catur Muka menjadi daya tarik utama. Penampilan barongsai, wushu, hingga tari tradisional Bali dan Tionghoa memperlihatkan akulturasi budaya yang telah lama hidup di Denpasar.
Namun di balik pertunjukan budaya tersebut, geliat ekonomi justru menjadi salah satu sorotan utama. Sepanjang Jalan Kartini, puluhan stan kuliner dan produk UMKM dipadati pengunjung yang datang dari berbagai daerah di Bali maupun wisatawan.
Beragam makanan khas tersaji, mulai dari dimsum, bakpao, siobak, kue keranjang, hingga kuliner lokal Bali seperti tipat sate dan nasi campur. Harga yang relatif terjangkau, mulai sekitar Rp10 ribu, membuat festival ini ramah bagi semua kalangan masyarakat.
Pemerintah Kota Denpasar menyebut festival ini tidak hanya menjadi agenda budaya tahunan, tetapi juga strategi menggerakkan ekonomi lokal melalui sektor pariwisata berbasis budaya.
Wakil Wali Kota Denpasar dalam sambutannya menegaskan bahwa Festival Harmoni Imlek menjadi simbol kebersamaan masyarakat lintas etnis dan agama di Kota Denpasar.
“Kegiatan ini mencerminkan semangat Vasudhaiva Kutumbakam, yakni persaudaraan universal yang hidup dalam keberagaman masyarakat kota,” katanya.
Sebelumnya, rangkaian perayaan juga diawali Festival Cahaya Lampion pada 17-20 Februari 2026 dengan pemasangan sekitar 700 lampion di kawasan pusat kota. Lampion-lampion tersebut menjadi simbol harapan, kebahagiaan, kemakmuran, dan kebersamaan keluarga dalam perayaan Imlek tahun ini.
Selain hiburan dan kuliner, festival juga menghadirkan pelepasan merpati serta berbagai pertunjukan seni yang melibatkan sanggar lokal. Kehadiran komunitas seni Bali dan Tionghoa dalam satu panggung memperlihatkan kuatnya tradisi toleransi yang telah lama menjadi identitas Denpasar.
Imlek 2577 Kongzili yang dikenal sebagai Tahun Kuda Api dimaknai sebagai simbol perubahan dan kemajuan. Semangat tersebut tercermin dari antusiasme masyarakat yang memenuhi kawasan heritage sepanjang festival berlangsung.
Melalui Festival Harmoni Imlek, Denpasar tidak hanya merayakan tradisi, tetapi juga menunjukkan bagaimana perayaan budaya mampu menjadi penggerak ekonomi rakyat sekaligus ruang perjumpaan sosial yang inklusif. (AW/MJ)