Di Malam Pergantian Tahun, Jembrana Luncurkan Anthem “Demi Jembrana, Pasti Bisa!”

*Di Malam Pergantian Tahun, Jembrana Luncurkan Anthem “Demi Jembrana, Pasti Bisa!”*

Lagu itu tidak datang di akhir.
Ia hadir di tengah —saat malam belum usai, saat doa belum sepenuhnya mengendap, dan ketika kesadaran kolektif berada pada ambang paling peka.

Di Gedung Kesenian Ir. Soekarno, Jembrana, Rabu (31/12), hujan baru saja reda. Sunyi belum sepenuhnya pergi. Di antara rangkaian Malam Refleksi dan Doa Bersama, panggung perlahan beralih arah; dari hiruk menuju hening yang bermakna. Di titik itulah anthem “Demi Jembrana, Pasti Bisa!” diluncurkan.

Nada awal mengalun pelan. Orkestra membuka bentang rasa, memberi ruang bagi emosi untuk bernafas. Lalu jegog menyelinap—berat, bergetar, seperti denyut tanah dan bambu yang tumbuh di hutan Jembrana. Rebana menyusul, menghadirkan irama yang mengingatkan pada perjalanan batin dan doa. Semua suara itu berpadu satu. Bukan suara tunggal, melainkan suara bersama.

Pendekatan musikal ini bukan sekadar estetika. Ia mencerminkan satu pandangan hidup Bali yang mendasar: bahwa harmoni lahir dari keseimbangan, bukan dari dominasi. Seperti hidup itu sendiri, yang hanya dapat tegak bila unsur-unsurnya saling menopang.

Lirik pembuka “Segara biru, gunung menjulang” berdiri sebagai fondasi makna. Dalam kosmologi Bali, Segara–Gunung bukan sekadar bentang alam, melainkan poros kehidupan. Gunung dipahami sebagai hulu kesucian, tempat nilai-nilai luhur dijaga. Laut adalah muara, ruang pelepasan, sekaligus cermin dari segala yang mengalir dari daratan. Keseimbangan antara keduanya menjadi syarat keberlanjutan kehidupan.

Di tengah krisis ekologis dan bencana yang kian sering terjadi, konsep Segara–Gunung terasa menemukan relevansinya kembali. Ketika hulu rusak, muara tak lagi tenang. Ketika keseimbangan diabaikan, alam berbicara dengan caranya sendiri. Lagu ini tidak menggurui, tetapi mengingatkan, bahwa pembangunan yang tercerabut dari kesadaran ekologis akan selalu rapuh.

Peluncuran anthem ini dikemas sebagai live performance kolaboratif. Tarian yang digarap oleh Gus Onet dari Sanggar Gayatri hadir bukan sebagai ornamen visual, melainkan tafsir tubuh atas filosofi keseimbangan. Geraknya pelan, mengalir, seolah mengikuti arah air dari gunung menuju laut. Tanpa ketergesaan, tanpa paksaan.

Di atas panggung, suara-suara Usada Kusuma, Windi Kristina, Niken, Axel, dan Dewa Panji menyatu sebagai paduan suara. Tidak ada suara yang berdiri sendiri. Seperti konsep Segara–Gunung itu sendiri, tiap suara menemukan maknanya justru ketika ia menjadi bagian dari keseluruhan.

Refrein “Demi Jembrana, Pasti Bisa!” terdengar bukan sebagai teriakan optimisme, melainkan sebagai ikrar. Diksi yang dicetuskan oleh Bupati Jembrana, I Made Kembang Hartawan, dilepaskan dari ruang administratif dan ditempatkan di ruang kultural. Ia menjadi ajakan untuk bekerja bersama, bahu-membahu, dalam kesadaran bahwa kemajuan tidak boleh memutus hubungan dengan alam dan kemanusiaan.

Anthem ini ditulis Wendra Wijaya, dikomposisi oleh Yogi Sukawiadnyana, serta diperkuat oleh karakter suara Usada Kusuma, Arya Punka, Gus Eko, Leo, Ella, dan Restu, dengan dukungan penuh Dinas Komunikasi dan Informatika Kabupaten Jembrana. Dukungan ini tidak hanya bersifat teknis, tetapi juga konseptual yang membuka ruang bagi kebudayaan untuk menjadi medium komunikasi publik yang lebih dalam dan melampaui pesan-pesan formal.

Secara dramaturgis, kehadiran lagu di pertengahan acara menjadi titik balik. Ia menjembatani doa dan refleksi, antara kesadaran akan krisis dan kebutuhan untuk tetap menaruh harapan. Lagu ini tidak menutup malam, tetapi menanam benih.

Video musik yang menyertainya bergerak dalam napas yang sama. Ia menampilkan Jembrana sebagai ruang hidup: kerja yang tekun, kebersamaan yang sederhana, dan alam yang terus mengawasi. Tidak ada glorifikasi. Yang ada adalah kejujuran.

Ketika lagu selesai, ruang tidak segera pecah oleh tepuk tangan. Ada jeda. Sunyi sejenak. Seperti hening di antara gunung dan laut, ruang tempat manusia seharusnya belajar mendengar.

Dan di sanalah lagu ini bekerja paling kuat sebagai pengingat, bahwa “Demi Jembrana, Pasti Bisa!” hanya akan bermakna jika keseimbangan dijaga: antara segara dan gunung, antara kemajuan dan kebijaksanaan, antara hari ini dan masa depan.

Lagu pun selesai dilesatkan. Bukan untuk menutup malam, tetapi membuka arah bagi segala rencana dan upaya di hari depan. (WJ/NCL)

Tags

Bagikan Berita Ini

Picture of Media Jembrana

Media Jembrana

Berita Terkait Lainnya

BALI

Imlek Denpasar Hidupkan Ekonomi Kawasan Kota Tua

BALI

PKK Badung Turun ke Pantai Cemagi, Dorong Warga Kelola Sampah dari Sumber

Jembrana

Kenakan Apron dan Turun Langsung Berjualan, Kembang–Ipat Semarakkan Peresmian Food Truck UMKM

Gen Z Pilih Menganggur daripada Terjebak Kerja

BALI

Perjuangan di Negeri Orang: Kisah PMI Jembrana yang Meninggal setelah Lelah Bekerja

Jembrana

Jembrana Membanggakan: Generasi muda Jembrana Sabet Emas Silat dan hingga Juara Esai Ilmiah

Negara

Ditemukan Tak Bernyawa di Areal DAM Baluk, Keluarga Tolak Autopsi

Jembrana

Pemkab Jembrana Adakan Pasar Murah, Gempur Inflasi & Jaga Stabilitas Harga di Bulan Ramadhan.

Wow! Duase ayu valentine naikan penjualan kondom dan jadi trend

Berita Terbaru

BALI

Imlek Denpasar Hidupkan Ekonomi Kawasan Kota Tua

BALI

PKK Badung Turun ke Pantai Cemagi, Dorong Warga Kelola Sampah dari Sumber

Jembrana

Kenakan Apron dan Turun Langsung Berjualan, Kembang–Ipat Semarakkan Peresmian Food Truck UMKM

Gen Z Pilih Menganggur daripada Terjebak Kerja

BALI

Perjuangan di Negeri Orang: Kisah PMI Jembrana yang Meninggal setelah Lelah Bekerja