Negara, Mediajembrana- Sebagai daerah yang memiliki sejarah kehidupan sosial yang panjang, Jembrana memiliki khazanah warisan tradisi budaya dari para pendahulu yang beragam. Seperti salah satunya lomba merpati terbang tinggi berpasangan yang diwariskan terun termurun dari generasi ke generasi. Warisan budaya lokal ini pun hingga kini terus dilestarikan.
Lomba merpati terbang tinggi menjadi salah satu tradisi unik di Jembrana. Tradisi ini berawal dari kehidupan sosial masyarakat tradisional pada masa lampau. Kendati tidak ada dokumen oautentik, namun kisah cerita (folklro) yang diwariskan di masyarakat membuktikan lomba burung merpati ini merupakan wujud eksistensi dari warisan budaya lokal milik kolektif masyarakat Jembrana.
Seperti yang dituturkan oleh salah seorang tokoh penggiat lomba merpati terbang tinggi berpasangan, I Made Sumerta pada Sabtu (29/8/2026). Pecinta burung dara adal Dauhwaru, Jembrana ini mengatakan tradisi ini berawal dari hobby seorang tokoh Puri Pacekan yang bernama I Gusti Ngurah Gejing sekitar tahun 1940. Sedahan/pejabat di puri ini gemar memelihara merpati.
Ia mempunyai sepasang burung merpati jenis/sorohan bulan, “burungnya mempunyai warna bulu belang kelau panjut berpasangan dengan burung warna belang merah panjut,” tuturnya. Cerita ini juga menurutnya tidak luput dari kisah asmara. Saat itu salah seorang abdi dalem/ parekan di Puri Pacekan bernama Kiang Weja yang saat itu masih bujang menaruh perasaan pada seorang gadis.
Karena tidak berani mengungkapkan perasaannya kepada gadis yang bernama Ketut Wesning, ia pun meminta bantuan kepada salah seorang sahabatnya yang bernama Kiang Weler untuk menyampaikannya ke gadis pujaannya hatinya tersebut. “Kiang Weler mau membantu Kiang Weja dengaan syarat Kiang Weler ingin punya burung sorohan bulan seperti yang dimiliki tokoh puri itu,” ungkapnya.
Demi bisa meraih cintanya, Kiang Weja pun nekat memberanikan bersiasat menukar telur burung merpati sorohan bulan piaraan I Gusti Ngurah Gejing dengan telur burung yang diberikan oleh Kiang Weler, “telur dara itu diserahkan kepada Kiang Weler sebagai imbalan,” kisahnya. Saat telur burung di puri itu menetas bukan merpati yang lahir, melainkan jenis burung derkuku/tekukur.
Mengetahui kejadi ini I Gusti Ngurah Gejing tidak marah. Dia hanya diam hingga akhirnya satu tahun berikutnya semua pemilik burung merpati di wilayah Jembrana di panggil untuk rapat di puri. Akhirnya seluruhnya sepakat mengadakan arisan/kompetisi burung dengan hadiaah jajan tradisional blukbuk. Karena jajan blukbuk saat itu jajanan paling mahal dan enak, semuanya pun tertarik ikut lomba.
Akhirnya pada hari Minggu pelaksanaan arisan/lomba merpati ini pertamakali diadakan di puri pacekan. Lomba hanya mempergunakan alat-lata yang ada di puri, seperti siwer tabih cikar/list roda gerobag dan ceeng beras (takaran beras dari batok kelapa) di pakai untuk pengukur waktu.Saat itulah Sang Sedahan mengtahui telur burung merpati sorohan bulan miliknya dicuri oleh dua sahabat ini.
“Saat itu selain Kiang Weler dan Kiang Weja tidak ada lagi peserta yang membawa burung merpati berbulu blang panjut. Sedangkan burung merpati peserta lainnya berbulu hitam-hitam dan kelau –kelau,” jelasnya. Dari peristiwa penuh drama di era kerjaaan itulah lomba burung merpati terbang tinggi berpasangan terus berlangsung hingga era modern ini dan dilaksanakan setiap minggu sekali.
Saat ini ada lebih dari dua ribu enggemar burung dara/merpati di Jembrana. Salah satunya I Ketut Serena (80) asal Desa Baluk. Legenda lomba burung merpati terbang tinggi ini mengaku sudah ikut berlomba sejak kecil bersama orang tuanya Kiang Lokyem dari Baluk Rening. Bahkan ia mengisahkan dalam perjalanan diawal ada penggemar dara yang mendapat hadiah merpati dari Mekah.
“Sekitar 1960 Nang Jorah dari Banjar Saba, Loloan berangkat naik Haji, sepulangnya diberi hadiah sepasang burung merpati betina dan jantan berwana putih oleh tokoh di Arab sebagai kenang-kenangan yang artinya tanda kesetiaan. Karena zaman itu jarang orang naik Haji dan masih jalur laut. Sampai di rumah diternak dan berkembang banyak lalu disebarkan ke berbagai desa,” ungkapnya.
Animo para penggemar untuk mengikuti perlomba merpati terbang tinggi berpasangan ini tetap tinggi. Atusiasme tidak hanya dikalangan orang tua, namun juga dikalangan anak muda. Seperti dalam Lomba Merpati Terbang Tinggi Berpasangan Bupati Jembrana Cup 2026. Ketua Panitia, I Ketut Wiarta (60) asal Banjar Munduk Kendung, Berangbang menagatakan ada 240 pasang merpati yang tampil.
“Itu seleksi dari masing-masing kecamatan yang dilaksanakan sebelumnya,” ujarnya. Peserta dibagi menjadi dua kategori yakni kategori polos (hitam-hitam atau kelau) sebanyak 80 pasang dan sisanya kategori mores (selain hitam dan kelau). “Penilaian tidak hanya darketinggian, ada gilik, tajep, buntut, hunter, nyeleseh dan pegat. Hanya pecinta yang tahu dan faham penilaian itu,” ungkap Wiarta.
“Setiap acal-acal (jangka) ada 4 saya (juri), ini yang menilai.” Jelasnya. Selaih tropy, ia menyebut masing-masing pemenang disetiap kategori mendapat hadiah uang tunai. Juara I mendapat hadiah Rp 1,5 juta, Juara II mendapata Rp. 1.250.000 dan Juara III mendapat Rp 1 Juta, “kendalanya ketika burung merpati terbang bisa tiba-tiba ada predator, atau burung salah navigasi,” tandasnya. (MJ)
Keterangan gambar:
Antusiasme pecinta burung dara mengikuti Lomba Merpati Terbang Tinggi Berpasangan Bupati Jembrana Cup 2026 di Lapangan Dauhwaru, Jembrana.