Mewaspadai ‘Copycat Suicide’: Ketika Berita Bisa Menjadi Pemicu

Kasus bunuh diri yang kembali terjadi di Bali, termasuk di Jembatan Tukad Bangkung, Plaga, Badung, seharusnya tidaklagi dilihat sebagai peristiwa yang berdiri sendiri. Di balik setiaptragedi, ada pola yang berulang dan konteks sosial yang lebihluas. Salah satunya adalah fenomena yang dikenal sebagaicopycat suicidesebuah efek peniruan yang jarang dibahassecara terbuka, tetapi nyata dan berbahaya.

Data kepolisian melalui Pusat Informasi Kriminal Nasional (Pusiknas) Polri menunjukkan bahwa Bali masih menempatiposisi teratas sebagai provinsi dengan tingkat bunuh diritertinggi di Indonesia. Pada tahun 2023, tercatat sekitar 135 kasus bunuh diri di Bali, dengan suicide rate mencapai 3,07 per 100.000 penduduk. Angka ini melampaui rata-rata nasional dan menjadi sinyal serius bahwa Bali sedang menghadapi persoalankesehatan mental yang mendalam, bukan sekadar insidensporadis.

Dalam konteks inilah, copycat suicide perlu dipahami dengancara yang sederhana. Istilah ini merujuk pada kondisi ketikaseseorang melakukan bunuh diri setelah terpapar informasitentang kasus bunuh diri lain, baik melalui berita, media sosial, maupun cerita yang berulang di ruang publik. Peniruan inibukan berartiikut-ikutandalam arti dangkal, melainkan terjadiketika individu yang sedang berada dalam kondisi tertekanmerasa menemukancontoh”, “jalan”, atau pembenaran ataspenderitaan yang sedang ia alami. Dalam kajian psikologi, fenomena ini dikenal sebagai Werther Effect, yakni efek domino akibat paparan narasi bunuh diri yang kuat dan berulang.

Masalahnya menjadi semakin serius ketika pemberitaan media massa menyajikan detail yang terlalu lengkap. Penyebutanlokasi secara terus-menerus, penggambaran kronologi secararinci, hingga penekanan pada metode yang digunakan, tanpadisadari bisa berubah menjadi pemicu bagi pembaca yang rentan. Pada titik tertentu, berita tidak lagi berfungsi sebagaiinformasi, tetapi berubah menjadi referensi yang berbahaya.

Inilah yang perlu menjadi refleksi bersama bagi media cetak, media online, media digital, hingga televisi. Pemberitaan kasusbunuh diri seharusnya ditulis dengan kehati-hatian ekstra. Media perlu menahan diri untuk tidak mengekspos detail teknisperistiwa, karena detail tersebut tidak menambah nilai informasipublik, tetapi justru berpotensi menimbulkan dampak lanjutan. Narasi pemberitaan semestinya digeser dari sensasi menujupemahaman, dari kronologi menuju konteks, dari peristiwamenuju pencegahan.

Media juga memiliki ruang penting untuk menghadirkanperspektif yang lebih manusiawi dan solutif. Alih-alih hanyamenyoroti bagaimana seseorang mengakhiri hidupnya, media bisa memberi perhatian pada dampak yang ditinggalkan bagikeluarga dan lingkungan sekitar, serta membuka ruang diskusitentang kesehatan mental, tekanan hidup, dan pentingnyamencari bantuan. Menyertakan informasi tentang layanankonseling, fasilitas kesehatan jiwa, atau ajakan untuk berbicaradengan orang terdekat bukanlah hal sepele, melainkan bagiandari tanggung jawab sosial media.

Penggunaan bahasa pun menjadi kunci. Bahasa yang empatik, tidak menghakimi, dan tidak mendramatisasi tragedi akanmembantu mengurangi stigma sekaligus mencegah romantisasibunuh diri. Demikian pula dengan penggunaan visual. Gambar lokasi kejadian atau ilustrasi yang sensitif sebaiknya dihindari, karena dapat memicu asosiasi emosional yang kuat bagipembaca tertentu.

Berbagai upaya pencegahan memang telah dilakukan. Di Jembatan Tukad Bangkung, misalnya, telah dipasang CCTV dan pagar pengaman. Upacara pembersihan secara agama Hindu juga baru-baru ini digelar sebagai bentuk ikhtiar spiritual. Namun kenyataannya, langkah-langkah tersebut belumsepenuhnya mampu mencegah terjadinya bunuh diri di lokasiitu. Fakta ini menegaskan bahwa persoalan bunuh diri tidak bisadiselesaikan hanya dengan pendekatan fisik atau simbolik. Akar masalahnya berada pada kesehatan mental, tekanan sosial, sertacara masyarakattermasuk media—memahami dan membicarakannya.

Mewaspadai copycat suicide berarti menyadari bahwa setiapkata yang ditulis, setiap judul yang dipilih, dan setiap sudutpandang yang diambil media memiliki konsekuensi. Di tengahtingginya angka bunuh diri di Bali, media tidak boleh sekadarmenjadi pencatat tragedi. Media harus menjadi bagian dariupaya pencegahan, penyadaran, dan pemulihan.

Karena pada akhirnya, bunuh diri bukan hanya soal kehilangansatu nyawa. Ia adalah cermin dari luka kolektif yang sedang kitaabaikan bersama. (AW/MJ)

Tags

Bagikan Berita Ini

Picture of Media Jembrana

Media Jembrana

Berita Terkait Lainnya

BALI

Imlek Denpasar Hidupkan Ekonomi Kawasan Kota Tua

BALI

PKK Badung Turun ke Pantai Cemagi, Dorong Warga Kelola Sampah dari Sumber

Jembrana

Kenakan Apron dan Turun Langsung Berjualan, Kembang–Ipat Semarakkan Peresmian Food Truck UMKM

Gen Z Pilih Menganggur daripada Terjebak Kerja

BALI

Perjuangan di Negeri Orang: Kisah PMI Jembrana yang Meninggal setelah Lelah Bekerja

Jembrana

Jembrana Membanggakan: Generasi muda Jembrana Sabet Emas Silat dan hingga Juara Esai Ilmiah

Negara

Ditemukan Tak Bernyawa di Areal DAM Baluk, Keluarga Tolak Autopsi

Jembrana

Pemkab Jembrana Adakan Pasar Murah, Gempur Inflasi & Jaga Stabilitas Harga di Bulan Ramadhan.

Wow! Duase ayu valentine naikan penjualan kondom dan jadi trend

Berita Terbaru

BALI

Imlek Denpasar Hidupkan Ekonomi Kawasan Kota Tua

BALI

PKK Badung Turun ke Pantai Cemagi, Dorong Warga Kelola Sampah dari Sumber

Jembrana

Kenakan Apron dan Turun Langsung Berjualan, Kembang–Ipat Semarakkan Peresmian Food Truck UMKM

Gen Z Pilih Menganggur daripada Terjebak Kerja

BALI

Perjuangan di Negeri Orang: Kisah PMI Jembrana yang Meninggal setelah Lelah Bekerja