JEMBRANA, Mediajembrana.com – Kabar duka datang dari Pekerja Migran Indonesia (PMI) asal Jembrana, Bali. Ni Made Dwi Ariawati (36), seorang tenaga terapis spa yang tengah bekerja di Saint Petersburg, Rusia, dilaporkan meninggal dunia pada Sabtu (14/2/2026), setelah mengalami pingsan saat sedang bertugas melayani tamu.
Keluarga di Jembrana menerima kabar duka ini pada Sabtu malam waktu Indonesia. Menurut informasi yang diterima, niat awal Ariawati bekerja di luar negeri adalah demi masa depan keluarga. Ia berangkat secara mandiri ke Rusia sejak 4 Agustus 2025, menandatangani kontrak kerja tiga tahun untuk mengabdi sebagai terapis spa di salah satu pusat layanan kesehatan dan kebugaran di Saint Petersburg.
Sebelum meninggal, Ariawati sempat mengeluhkan rasa lelah yang luar biasa kepada keluarganya. Kondisi tersebut tidak hanya sekali dirasakan, tetapi berulang selama beberapa minggu menjelang peristiwa pingsan yang kemudian berujung pada dirawatnya di rumah sakit setempat.
Sumber keluarga menyebutkan bahwa pada hari kejadian, Ariawati tiba-tiba pingsan di tempat kerja saat melayani tamu. Rekan kerja kemudian segera membawa korban ke rumah sakit, namun sayangnya nyawa almarhumah tidak dapat tertolong meskipun telah mendapatkan pertolongan medis.
Pemerintah Kabupaten Jembrana melalui instansi terkait hingga kini masih menunggu dokumen resmi kematian dari pihak rumah sakit di Rusia. Pernyataan resmi dari pemerintah daerah menyebutkan bahwa proses administrasi dan koordinasi dengan pihak luar negeri dilakukan secara hati-hati agar seluruh data sah dan bisa digunakan untuk bantuan keluarga sesuai ketentuan yang berlaku.
Dugaan sementara penyebab kematian menurut keluarga dan informasi awal dari pejabat setempat adalah kelelahan kerja kronis, yang sebelumnya sudah sempat dikeluhkan oleh almarhumah. Namun, penyebab pasti masih menunggu hasil pemeriksaan dan dokumen resmi dari otoritas medis di Saint Petersburg.
Kisah duka ini kembali membuka diskusi mengenai tantangan dan risiko yang dihadapi pekerja migran Indonesia di luar negeri, terutama yang bekerja di sektor jasa dan layanan dengan jam kerja intensif. Bagi banyak keluarga, kerja di luar negeri menjadi harapan meningkatkan kesejahteraan; namun, kondisi fisik dan tekanan pekerjaan sering kali menjadi beban tersendiri.
Keluarga berharap agar kisah ini bisa menjadi pelajaran dan dorongan bagi berbagai pihak untuk terus memperhatikan perlindungan dan kesejahteraan pekerja migran Indonesia, termasuk dari sisi kontrak kerja, jam istirahat, hingga layanan kesehatan di negara penempatan. (AW/MJ, dari berbagai sumber)