BADUNG, Mediajembrana.com – Di sebuah ruang seminar di kawasan Kuta, Bali, layar besar menampilkan fakta yang selama ini sering dikutip namun jarang benar-benar ditindaklanjuti. UMKM mencakup 99 persen unit usaha nasional dan menyerap sekitar 97 persen tenaga kerja.
Angka itu tampak impresif, tetapi bagi Sandiaga Uno justru menyimpan persoalan mendasar. Terlalu banyak usaha mikro, terlalu sedikit yang berhasil naik kelas.
Pandangan itu disampaikannya dalam Seminar Nasional ‘Transformasi UMKM Menuju Skala Korporasi melalui Venture Capital dan Private Equity’, yang digelar BPD HIPMI Bali bersama Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Bali di Sovereign Hotel Kuta, Sabtu (7/2/2026).
Di hadapan pengusaha muda, pelaku UMKM, dan pemangku kebijakan, Sandiaga Uno, mantan Menteri Pariwisata dan Ekonomi Kreatif pada era pemerintahan Joko Widodo (Jokowi) berbicara sebagai praktisi yang telah puluhan tahun berkecimpung di dunia usaha dan investasi.
“UMKM kita itu kuat sekali di jumlah, tapi lemah di skala. Kalau kita hanya bangga dengan angka 99 persen, tapi tidak mendorong mereka naik kelas, maka struktur ekonomi kita akan terus timpang,” ujarnya.
Sandiaga menyinggung perjalanan bisnisnya yang dimulai sejak 1996 melalui Rekapital, yang kini memasuki usia 30 tahun. Dua tahun kemudian, ia mendirikan Saratoga dengan fokus pada private equity. Dari pengalaman panjang tersebut, ia menarik satu kesimpulan penting. Pertumbuhan ekonomi nasional tidak akan cukup ditopang oleh usaha mikro jika tidak dibarengi proses scale up yang serius.
Indonesia Emas 2045, menurut Sandiaga, bukan sekadar jargon politik. Ia merujuk kajian Studi Global Institute yang menyebut Indonesia membutuhkan sekitar 276 ribu perusahaan menengah dan besar agar mampu menjadi negara maju. Dari jumlah itu, sekitar 4.000 perusahaan harus mampu menembus pasar global dan memenuhi standar kelas dunia.
“Banyak yang bicara pertumbuhan delapan persen, tapi jarang yang bicara bagaimana caranya UMKM kita naik kelas,” kata Sandiaga. “Padahal, tanpa perusahaan menengah dan besar yang kuat, kita tidak akan sampai ke Indonesia Emas 2045,” tambah dia.
Struktur UMKM Indonesia saat ini masih didominasi usaha mikro dan ultra mikro. Dari sekitar 64 juta UMKM nasional, sebagian besar masih bergerak di level paling dasar. Di Bali sendiri terdapat sekitar 400 ribu UMKM. Menurut Sandiaga, banyak pelaku usaha di Bali sudah berkelas dunia dari sisi layanan, kualitas, dan keberlanjutan, namun masih terbatas dari segi ukuran dan kapasitas usaha.
“Di Bali itu kualitasnya sudah bagus, service-nya bagus, sustainability-nya juga ada,” ujarnya.
Namun, kata Sandiaga, yang masih menjadi pekerjaan rumah adalah size. Bagaimana supaya usaha-usaha ini bisa tumbuh lebih besar dan lebih kuat.
“Selama ini diskursus ekonomi terlalu fokus pada pertumbuhan angka, sementara fondasi untuk mencapainya kurang diperhatikan,” jelasnya.
Scale up, menurut Sandiaga, kerap dianggap proses alami, padahal membutuhkan intervensi, pendampingan, dan ekosistem yang tepat. Tanpa itu, UMKM akan terus berada di lingkaran yang sama.
Dalam konteks tersebut, venture capital dan private equity diposisikan sebagai instrumen strategis. Bukan hanya sebagai sumber modal, tetapi juga mitra dalam membangun tata kelola dan daya saing usaha.
“Tugas kami yang senior-senior ini adalah mementori, bukan sekadar memberi modal, tapi membantu UMKM ini naik kelas dengan tata kelola yang baik,” kata Sandiaga.
Ia juga menekankan pentingnya peran lembaga keuangan dan regulator, termasuk Bank Indonesia, dalam menciptakan sistem pendukung yang konsisten.
“Pasar modal, menurut saya, masih menjadi ruang yang relatif asing bagi banyak UMKM, padahal berpotensi menjadi sumber pembiayaan jangka panjang,” sebut Sandiaga.
Sandiaga memberi perhatian khusus pada regenerasi pelaku ekonomi. Anak-anak muda, katanya, tidak cukup hanya didorong menjadi pengusaha, tetapi juga perlu disiapkan sebagai penggerak ekosistem investasi.
“Kita butuh lebih banyak anak muda yang paham dunia usaha dan pasar modal sekaligus,” ujarnya.
Bagi Bali, pesan ini terasa relevan. Pariwisata telah melahirkan ribuan usaha jasa dan kreatif, tetapi tantangan berikutnya adalah mengonsolidasikan usaha-usaha tersebut agar mampu tumbuh berkelanjutan dan menembus pasar nasional maupun global. Tanpa strategi scale up yang jelas, UMKM Bali berisiko stagnan.
Di akhir paparannya, Sandiaga menegaskan kembali bahwa masa depan ekonomi Indonesia tidak ditentukan oleh banyaknya UMKM semata.
“Indonesia Emas 2045 itu tidak akan tercapai kalau UMKM kita tidak naik kelas. Jumlah penting, tapi kualitas dan skala jauh lebih menentukan,” tutup Sandiaga. (AW/MJ)