Jembrana, Mediajembrana.com – Komitmen mengelola sampah juga dibuktikan oleh pihak Desa Adat. Seperti gerakan gotong royong swadaya yang kini dilakukan Pamucuk Desa Adat Lelateng. Untuk menekan/meminimalisir pengiriman sampah ke TPA Peh, Pasar Desa Adat Lelateng, Negara telah mengoptimalkan teba modern dengan memanfaatkan mesin pencacah sampah organik.
Kepala Pasar Desa Adat Lelateng, AKP Purn. I Made Sunatra, SH, M.Hum (68) mengatakan dari total 308 pedagang dalam pasar, setiap hari menghasilkan rata-rata 7 keranjang sampah organik. Setelah dicacah menjadi 3 kampil untuk selanjutnya dimasukan ke dalam teba modern. “Kalau tidak ada pembuangan sampah liar, sampah dari pasar kami gampang mengelola karena pedagang langsung yang memilah. Tinggal proses pencacahan yang membutuhkan waktu sekitar 2 jam,” ujarnya.
Dengan keterbatasan tempat di areal pasar yang terletak di tengah permukiman padat penduduk, ia menyebut saat ini baru tersedia hanya 3 teba modern. Sehingga untuk mempercepat proses penguraian material organik dalam lubang teba modern memanfaatkan EM4 (Effective Microorganisms 4).
Nantinya material organik dalam teba modern akan menjadi kompos, “waktu panennya paling lama 1 bulan sehingga teba modern bisa kami rotasi dan kosongkan lagi secara berkala,” jelasnya. Pihaknya bahkan menyebut sudah banyak krama yang saat ini menyampaikan permintaan kompos untuk ditebar di kebun, “ini kan mengubah paradigma sampah menjadi komoditas,” tegasnya.
Selain menyetorkan Pendapatan Asli Daerah (PAD) berupa retribusi sampah, pihaknya mengaku berkomitmen untuk ikut mengurangi timbunan dan timbunan sampah di TPA Peh, “ini langkah kecil yang bisa kami lakukan. Dari awalnya kebingungan sebagai pengelola pasar. Semoga bisa memberikan dampak positif,” tandasnya. (MJ)
Keterangan gambar:
Proses pengolahan sampah organik menjadi kompos di Pasar Desa Adat Lelateng dengan memanfaatkan teba modern.