AGAM – Pada Minggu, 30 November 2025, kisah gugurnya Reno, anjng pelacak milik Direktorat Samapta Polda Riau, menyisakan duka mendalam sekaligus mengingatkan kembali betapa pentingnya peran hewan terlatih dalam operasi kemanusiaan. Reno yang berusia empat tahun itu kehilangan nyawanya saat membantu pencarian korban longsor di kawasan Batu Taba, Kecamatan Ampek Angkek, Kabupaten Agam, Sumatera Barat.
Reno bersama pawangnya, Bripka Sabri, diterjunkan ke lokasi bencana setelah laporan adanya warga tertimbun material. Dalam kondisi medan berat, jalan licin, serta tanah yang terus bergerak, tim gabungan membutuhkan dukungan unit K-9 untuk mempercepat pencarian. Reno termasuk anjing dengan sertifikasi Search and Rescue (SAR) yang sudah beberapa kali turun dalam operasi pencarian orang hilang.
Pada hari kejadian, Reno bekerja seperti biasa, menyusuri area rawan, mengikuti jejak bau, dan memberi tanda jika menemukan potensi titik pencarian. Namun saat bergerak menuju salah satu sektor, Reno terperosok ke dalam kubangan lumpur ketika cuaca buruk dan struktur tanah sangat rapuh. Upaya penyelamatan langsung dilakukan, tetapi nyawanya tidak tertolong.
Kematian Reno bukan hanya pukulan bagi tim K-9. Di kalangan relawan dan personel SAR yang bekerja bersamanya, Reno dianggap bagian dari rombongan, bukan sekadar hewan tugas. Banyak relawan di lokasi mengaku melihat bagaimana Reno bekerja nyaris tanpa henti sejak diturunkan.
Di Markas Sabhara Polda Riau, sejumlah anggota menyampaikan duka. Menurut mereka, Reno adalah anjing yang disiplin, mudah diarahkan, dan memiliki ikatan kuat dengan pawangnya. Tanpa bisa berbicara, kedekatan Reno dengan Sabri terlihat dalam rutinitas harian, mulai dari latihan hingga pemulihan usai operasi.
Kehilangan Reno juga membuka kembali pembahasan tentang keselamatan hewan pelacak di lapangan. Dalam banyak operasi bencana seperti gempa, longsor, dan banjir bandang, anjing pelacak kerap berada di barisan depan karena kemampuannya mendeteksi jejak dan tanda kehidupan lebih cepat dibandingkan manusia. Namun risiko yang mereka hadapi sama besarnya.
Pihak kepolisian memastikan Reno mendapat penghormatan sebagai anggota yang gugur dalam tugas kemanusiaan. Pemakamannya dilakukan secara layak di area khusus K-9, tempat anjing-anjing dinas yang telah tiada disemayamkan.
Di tengah rasa kehilangan, kisah Reno menjadi pengingat bahwa keberhasilan operasi penyelamatan sering kali ditopang oleh kerja senyap para anjing pelacak. Mereka tidak mencari sorotan, tetapi memberikan kontribusi besar dalam setiap misi kemanusiaan.
Pengabdian Reno berakhir di medan tugas, tetapi kisahnya tetap menjadi teladan tentang keberanian, ketekunan, dan loyalitas dalam dunia pencarian dan pertolongan. (Angga Wijaya/MJ)