Narasi bahwa Bali sepi selama libur Natal dan Tahun Baru 2025/2026 menjadi viral di media sosial. Video-video pendek memperlihatkan tempat-tempat wisata tampak lengang atau kurang padat pengunjung. Obrolan netizen sampai komentar di grup WhatsApp menegaskan kesan bahwa Bali “tidak ramai seperti dulu”. Pertanyaannya kemudian berkembang menjadi perdebatan besar, bahwa apakah Bali benar-benar sepi atau kita sedang menghadapi hoaks pariwisata yang tersebar luas?
Untuk menjawabnya kita harus bedakan antara persepsi visual di media sosial dan kenyataan data statistik. Ketika seseorang hanya melihat foto atau video yang diambil pada waktu dan lokasi tertentu, misalnya pagi hari di Kuta atau jalanan Sanur di tengah hujan. Wajar jika itu terlihat lengang. Namun satu klip video bukan bisa mewakili seluruh pulau yang setiap hari didatangi ribuan wisatawan dari berbagai negara.
Pemerintah provinsi Bali, khususnya Gubernur Wayan Koster, telah menanggapi isu ini secara langsung kepada wartawan. Menurut Koster, klaim bahwa Bali sepi wisatawan adalah hoaks yang tidak berdasar. Ia menegaskan bahwa dari data real yang dimiliki pemerintah, jumlah kunjungan wisatawan justru meningkat dibanding tahun lalu. “Kami mencatat peningkatan kunjungan turis, sehingga informasi tentang turis sepi di media sosial itu hoaks,” ujar Koster, Senin (22/12/2025), menanggapi kabar tersebut.
Dalam penjelasannya kepada media lokal, Koster juga menyebutkan bahwa data kunjungan turis mancanegara pada 2025 hingga pertengahan Desember sudah mencapai sekitar 6,7 juta orang, lebih tinggi dibandingkan angka ±6,3 juta orang pada 2024. Angka harian turis mancanegara yang datang ke Bali juga menunjukkan tren naik dari rata-rata 17 ribu per hari menjadi sekitar 20 ribu per hari menjelang Nataru.
Koster bahkan secara tegas menolak narasi tersebut dengan kata yang kuat, menyebutnya sebagai “bohong” dan menyatakan bahwa dia memiliki data kunjungan turis yang valid untuk membantahnya. Pernyataan gubernur ini bukan hanya semata bantahan politik, tetapi juga didukung oleh statistik yang menunjukkan Bali masih menjadi magnet pariwisata yang kuat.
Lalu mengapa narasi “Bali sepi” tetap muncul dan cepat menyebar? Penyebabnya bersifat psikologis dan kontekstual: masyarakat sering membentuk kesimpulan dari potongan pengalaman pribadi, bukan dari data utuh. Seorang sopir taksi mungkin merasa sepi karena ia hanya melihat lalu lintas di satu jalan. Salah satu kafe mungkin tampak sedikit pengunjung karena cuaca hujan. Namun itu bukan berarti keseluruhan Bali kehilangan wisatawan.
Kesan sepi juga sering muncul ketika ekspektasi publik terlalu tinggi. Tahun-tahun sebelumnya, Bali kerap dipenuhi pengunjung hingga lalu lintas macet di banyak titik. Ketika suasana tidak seramai itu, sebagian orang lalu menyimpulkan bahwa pariwisata menurun, padahal kunjungan tetap tinggi hanya tersebar lebih merata atau berbeda jamnya.
Fakta statistik menunjukkan Bali tidak sepi secara jumlah, namun wajar jika di beberapa titik atau waktu tertentu suasana terlihat lebih lengang. Hoaks muncul ketika potongan foto atau video dipakai sebagai klaim umum, tanpa konteks data riil.
Pada akhirnya pembaca perlu sadar bahwa pengalaman visual di media sosial belum tentu mewakili keseluruhan realitas. Bali tetap ramai, tetapi pola wisatawan berubah. Hoaks “Bali sepi” justru lebih menggema karena ia bermain pada persepsi, bukan fakta. (Angga Wijaya/MJ)