TABANAN, MediaJembrana – Memasuki usia satu tahun, Magic Garden di kawasan Nuanu Creative City, Tabanan-Bali, semakin mengukuhkan diri sebagai ruang belajar alam yang paling diminati keluarga dan sekolah di Bali.
Bukan sekadar taman botani, ruang seluas 3.600 meter persegi ini berkembang menjadi pusat edukasi tentang regenerasi lingkungan dan keanekaragaman hayati yang dirancang interaktif, imersif, dan menyenangkan.
Magic Garden didirikan pada 2024 sebagai wujud komitmen Nuanu Creative City yang mendedikasikan 70 persen kawasannya sebagai ruang hijau. Dalam satu tahun, fasilitas itu berkembang dari tiga wahana menjadi delapan, sekaligus menegaskan posisinya sebagai destinasi edutainment yang unik di Tabanan.
Ida Ayu Astari Prada, Brand & Communications Director Nuanu Creative City, mengatakan pengembangan Magic Garden berangkat dari visi membangun ekosistem pembelajaran yang hidup. “Tujuan kami adalah menciptakan inkubator bagi orang-orang berbakat untuk bekerja dengan tanaman dan serangga. Ini bukan hanya tentang menyediakan rumah bagi makhluk hidup, tetapi juga membangun warisan pengetahuan bagi sekolah dan pengunjung,” ujarnya.
Pada tahun pertamanya, Magic Garden menunjukkan perkembangan signifikan. Selain memperluas koleksi flora dan fauna, tingkat kelangsungan hidup kupu-kupu di fasilitas ini tercatat 10 kali lebih tinggi dibandingkan di alam liar. Program reforestasi berbasis metode Miyawaki, penambahan koleksi tanaman asli Bali, serta pelepasliaran lebih dari 14 ribu kupu-kupu menjadi bagian dari kontribusinya terhadap restorasi ekologi.
Lima fasilitas baru kini melengkapi area ini: Permaculture Garden, Biota Lab, Miyawaki Forest, Rabbit Park, serta tampilan awal The Glow Project. Kehadiran fasilitas-fasilitas tersebut menjadikan Magic Garden tempat yang semakin relevan untuk pembelajaran berbasis pengalaman, terutama bagi sekolah. Sepanjang 2025, lebih dari 30 sekolah tercatat melakukan kunjungan edukatif.
Salah satu yang paling menarik perhatian adalah The Glow Project, pengalaman bioluminesensi dan fluoresensi yang sudah dikembangkan selama dua tahun dan akan resmi diluncurkan pada 2026. Pengunjung akan diajak melihat 13 organisme bioluminesen dan 31 spesies tanaman fluoresen, lengkap dengan penjelasan tentang bagaimana cahaya digunakan organisme untuk bertahan hidup serta menjaga keseimbangan ekosistem.
Komang Sri Junisabtika, Venue Manager Magic Garden, menyebut proyek ini sebagai pengalaman belajar yang jarang ditemui di tempat lain. “Setiap makhluk hidup yang kami rawat memiliki cerita dan perannya dalam ekologi. Ketika orang memahami bagaimana cahaya bekerja di alam, mereka menjadi lebih terhubung dengan lingkungan sekitar mereka,” ujarnya.
The Glow Project nantinya dibuka khusus pada malam hari dengan sistem tur berpemandu dan tiket seharga Rp250.000 per orang.
Selain pengembangan fasilitas, Magic Garden juga aktif menggelar workshop kreatif seperti terrarium dan kokedama, serta menjadi rumah bagi Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis), salah satu bunga nasional Indonesia. Tahun ini, area tersebut juga menghadirkan pameran bertema Liana Reverie di Labyrinth Art Gallery.
Memasuki usia pertama, Magic Garden membawa semangat sebagai “kelas belajar hidup”. Sebuah ruang yang mempertemukan kreativitas, pendidikan, dan rasa ingin tahu masyarakat terhadap alam melalui cara yang menyenangkan dan dapat diakses semua kalangan. (Angga Wijaya/MJ)