Hari Raya Kuningan kembali dirayakan umat Hindu di Bali sebagai penutup rangkaian suci Galungan. Meski suasananya tidak semeriah Galungan, Kuningan justru menjadi momen spiritual yang lebih hening, mendalam, dan kaya makna. Di seluruh Bali, umat memaknainya sebagai waktu memohon keselamatan, perlindungan, dan keseimbangan hidup di tengah dinamika zaman.
Dirayakan setiap 210 hari berdasarkan kalender wuku, Hari Kuningan jatuh pada Saniscara Kliwon Wuku Kuningan. Dalam tradisi Bali, hari ini dipercaya sebagai momen ketika Dewa Hyang dan leluhur kembali ke alamnya setelah berkunjung selama Galungan. Karena itu, umat melaksanakan persembahyangan lebih awal, umumnya sebelum tengah hari, ketika kesucian diyakini berada pada puncak energinya.
Di berbagai pura dan merajan di Bali, suasana Kuningan tampak khusyuk dan penuh rasa syukur. Sesajen khas Kuningan seperti canang kuningan, tamiang, dan endongan merupakan simbol filosofis yang sarat makna. Tamiang menggambarkan perlindungan dan pertahanan diri, endongan melambangkan bekal hidup spiritual dan material, sementara canang kuningan dengan dominasi warna kuning menjadi tanda kemakmuran dan kebijaksanaan. Warna kuning sendiri melambangkan kemurnian hati dan kemakmuran yang diharapkan hadir dalam kehidupan umat.
Kuningan juga dipandang sebagai saat terbaik untuk memohon keselamatan, keteduhan batin, dan bimbingan agar selalu berada di jalan dharma. Nilai ini menjadi sangat relevan bagi masyarakat Bali yang menghadapi tuntutan modernitas, pariwisata, perubahan sosial, hingga gesekan budaya. Kuningan mengingatkan bahwa segala hal bermula dari pikiran yang bersih dan hati yang tulus.
Bagi generasi muda, Kuningan adalah momen introspeksi diri. Di tengah arus digital dan pola hidup serba cepat, tradisi Kuningan mengajak anak-anak muda Bali untuk kembali mengenali akar spiritual mereka. Tradisi ini mengajarkan syukur, kerendahan hati, penghormatan kepada leluhur, serta pentingnya menjaga Tri Hita Karana, harmoni antara manusia, Tuhan, sesama, dan alam.
Dalam kehidupan sosial, Kuningan memberi pesan bahwa keseimbangan hidup tidak hanya lahir dari materi, tetapi dari keterhubungan dengan keluarga, lingkungan, dan nilai-nilai budaya. Banyak keluarga di Bali memanfaatkan Kuningan untuk berkumpul, merawat pura keluarga, serta memperkuat hubungan antargenerasi.
Lebih dari sekadar ritual berulang setiap 210 hari, Kuningan adalah pengingat untuk menjaga keseimbangan hidup, memperkuat batin, serta menjadikan ajaran dharma sebagai pedoman sehari-hari. Dari perkampungan tradisional hingga kawasan urban di Bali, Kuningan membawa pesan abadi bahwa cahaya dharma akan selalu hadir selama manusia mau merawatnya. (Angga Wijaya/MJ)