JEMBRANA – Di tengah geliat pembangunan kawasan pesisir Kabupaten Jembrana, Desa Pengambengan bersama desa tetangganya yaitu Cupel, Baluk, dan Tegal Badeng Barat di Kecamatan Negara menjadi titik fokus percontohan pembangunan ekonomi biru. Melalui sinergi antara Badan Pusat Statistik (BPS) Kabupaten Jembrana, Pemerintah Kabupaten Jembrana, Dinas Kominfo, serta Politeknik Kelautan dan Perikanan (Poltek KP) Jembrana, diluncurkanlah Program Desa Cinta Statistik (Desa Cantik) Tahun 2026 yang diresmikan secara resmi oleh Bupati Jembrana pada 6 Mei 2026. Program ini tidak hanya bertujuan memperkuat tata kelola data sektoral di tingkat desa, tetapi juga menjalankan In-Depth Study untuk mengukur kesiapan kawasan ini menuju Program Nasional Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP).
Pendataan lapangan berbasis Computer Assisted Personal Interviewing (CAPI) yang memanfaatkan Aplikasi MESARI dilaksanakan pada minggu pertama Juni 2026 oleh para taruna Poltek KP Jembrana yang telah dilatih. Dengan mencakup periode pengamatan data sejak 1 Juni 2025 hingga 31 Mei 2026, kegiatan ini berhasil menghimpun data kuantitatif dari 415 sampel keluarga pesisir (termasuk 137 keluarga di Desa Pengambengan sebagai Hub utama KNMP), menggabungkannya dengan analisis spasial citra satelit Sentinel-2A, serta wawancara kualitatif mendalam.
Hasil analisis memberikan gambaran komprehensif mengenai kondisi riil kawasan pesisir Pengambengan. Dari sudut pandang ekologis, analisis spasial periode 2019–2025 mengungkapkan ancaman abrasi kritis yang telah mengikis pantai hingga 8 meter per tahun, khususnya di wilayah Banjar Ketapang Muara dan Banjar Muara Indah. Dampak lingkungan ini dirasakan langsung oleh masyarakat, di mana 55,4% keluarga melaporkan pernah terdampak bencana banjir dan 8,1% terdampak banjir rob.
Di sisi lain, pengukuran tingkat kesiapan masyarakat menggunakan Community Readiness Model (CRM) menempatkan pemangku kepentingan pemerintah, kelompok nelayan, dan Koperasi Desa Merah Putih pada Stage 5 (Preparation). Temuan ini menandakan bahwa struktur kepemimpinan dan sumber daya dasar sudah siap, namun masih terdapat celah informasi di tingkat tapak, di mana 73,1% responden masyarakat umum mengaku belum mengetahui detail rencana pelaksanaan pembangunan KNMP.
Menjawab berbagai tantangan dan dinamika tersebut, Laporan Hasil Pendataan bertema “Smart Coastal Village Berbasis Data Desa” menyusun serangkaian rekomendasi strategis bagi Pemkab Jembrana dan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP). Pertama, diperlukan penguatan sosialisasi terstruktur dan inklusif mengenai program KNMP kepada masyarakat nelayan. Kedua, percepatan pembangunan infrastruktur pelindung pantai dan mitigasi banjir rob menjadi prioritas mendesak. Terakhir, integrasi data Desa Cantik melalui aplikasi MESARI dan situs web desa yang didukung Dinas Kominfo harus dijadikan acuan utama (baseline data) dalam pengambilan kebijakan pembangunan ekonomi biru, guna menyejahterakan masyarakat pesisir Jembrana secara berkelanjutan.
Pelaksanaan program ini berjalan melalui kolaborasi lintas instansi yang solid. Tahapan diawali dengan sosialisasi dan identifikasi kebutuhan desa, dilanjutkan dengan persiapan teknis seperti penyusunan kuesioner, penyediaan buku pedoman, serta pelatihan petugas. Dalam proses ini, Dinas Kominfo berperan penting membuat aplikasi pendataan dan mendukung pengelolaan website desa. (MJ)